Gemasi Unpad

Kami sudah pindah. Silahkan kunjungi gemasi.fib.unpad.ac.id

Translating: Belajar Sambil Bekerja

Judul tersebut terasa cocok bagi orang-orang yang memiliki profesi sebagai penerjemah. Hal tersebut akan terasa jika kalian mengikuti acara “Crash Course in Translating Legal Documents” yang diadakan pada hari Selasa 11 September 2012 di Ruang Sidang Besar Gedung A FIB Unpad. Acara yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris Unpad dan Business Advisory Indonesia (B AI) tersebut berhasil menarik perhatian para mahasiswa Sastra Inggris yang tertarik untuk memiliki profesi sebagai penerjemah profesional.

Presentasi dari Business Advisory Indonesia

Acara tersebut dibuka oleh Ketua Program Studi Sastra Inggris, Ibu Erlina, yang diteruskan oleh Ibu Mariana M. G. Warokka selaku perwakilan dari BAI. Ibu Mariana menceritakan tentang prospek kerja penerjemah dan bagaimana tahapan-tahapan karir untuk menjadi penerjemah profesional . BAI sendiri, menurutnya, memiliki beberapa kriteria ketika melakukan rekrutmen, seperti IPK yang harus diatas 3.0, memiliki sikap yang baik, dan yang paling penting adalah unsur-unsur dasar yang harus dimiliki oleh penerjemah seperti kemampuan bahasa dan dapat dipercaya. Hal ini penting karena seorang penerjemah terkadang harus menerjemahkan dokumen rahasia perusahaan sehingga diperlukan seorang “sworn translator” atau penerjemah tersumpah agar sang klien dapat mempercayakan isi dokumen tersebut tetap terjaga kerahasiaannya.

Selanjutnya acara diisi oleh Ahmad Sofyan Jamil, seorang “sworn translator” dan karyawan senior BAI yang telah berkutat lama dalam profesi penerjemahan. Dia menceritakan pengalamannya bekerja sebagai penerjemah. Dia menekankan dalam melakukan penerjemahan dokumen legal, seorang penerjemah tidak boleh menambah atau mengurangi apa yang ada di dalam teks sumber. Walaupun menurut sang penerjemah ada sesuatu yang kurang dalam teks tersebut, hal tersebut harus dibiarkan karena tugas seorang penerjemah hanya mengubah dari bahasa sumber ke bahasa target. Dia juga memperkenalkan unsur-unsur dasar ketika melakukan penerjemahan, yaitu Faithful, Accurate, Complete, Consistent, dan Readable. Kesemua itu tergabung dalam formula 4+1.

Yang paling ditekankan oleh kedua pembicara tersebut adalah ketika melakukan penerjemahan, secara tidak langsung kita mempelajari objek yang kita terjemahkan. Hal ini berarti kita menerjemahkan sekaligus belajar tentang objek terjemahan kita. Proses bekerja sambil belajar ini merupakan proses yang menyenangkan. Bahkan karena seringnya menerjemahkan dokumen-dokumen legal yang menyangkut hukum, Ibu Mariana menjadi tahu banyak dalam bidang hukum dan berhasil mendapatkan gelar S2 dalam bidang hukum dengan nilai yang memuaskan. Padahal, dia baru memutuskan untuk mengambil kuliah hukum pada usia sekitar 50 tahun setelah sebelumnya lama berkarir sebagai penerjemah dokumen legal.

Dan ini hal yang paling penting bagi kalian yang berminat menjadi penerjemah: GRAMMAR. Hal ini sangat sangat penting mengingat ketika berbahasa kita dituntut untuk membuat sebuah komposisi struktur kalimat yang benar agar dapat dimengerti. Maka, mumpung masih mahasiswa, ayo belajar yang giat dan serius tentang Grammar, karena hal inilah yang pertama kali akan dinilai ketika ada rekrutmen penerjemah baru, khususnya di BAI.

Tertarik untuk jadi penerjemah profesional? Challenge accepted!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Tentang Gemasi

Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris (Gemasi) berdiri pada tanggal 1 November 1969 oleh Bpk. H. Abdullah Priyo Utomo. Pada awalnya Gemasi merupakan sekumpulan mahasiswa/i yang belum mempunyai struktur organisasi yang jelas. Hanya sekedar “nongkrong bareng”. Sehingga timbulah suatu keinginan untuk mempunyai suatu wadah untuk berkumpul dengan struktur yang terorganisir dan mempunyai lembaga yang jelas, seperti sekarang ini. Klik tautan ini untuk mengetahui lebih lanjut.

Archives

@gemasiunpad

%d bloggers like this: