Gemasi Unpad

Kami sudah pindah. Silahkan kunjungi gemasi.fib.unpad.ac.id

Crossing 2012, Done!

Berawal dari keinginan sekumpulan mahasiswa dan dosen untuk mempresentasikan makalah dalam sebuah forum diskusi, pada tanggal 24-26 April 2012 lalu, sebuah rangkaian acara bertajuk Crossing: Travels, Transformations, and Transgressions in and out of Codes and Canons tuntas diselenggarakan oleh Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris dan Jurusan Sastra Inggris di Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Dipati Ukur, Bandung.

Keynote Speech dari Dr. Dede Oetomo

Seperti yang telah diinformasikan dalam posting sebelumnya, rangkaian acara ini terdiri atas tiga kegiatan utama yaitu konferensi, kompetisi, dan workshop tentang karir untuk mahasiswa Sastra Inggris. Dengan total jumlah partisipan lebih dari 150 orang dari berbagai daerah dan 4 orang pembicara utama dengan latar belakang yang berbeda, untuk sebuah acara yang pertama kali diadakan oleh Sastra Inggris dan waktu persiapan yang terbatas, acara ini terbilang sukses. Dan yang lebih penting lagi, Sastra Inggris kini memiliki “batu pijakan” untuk acara serupa di tahun depan sehingga kesalahan yang sama tidak akan terulang.

Rangkaian acara dibuka pada tanggal 24 April 2012 di Grha Sanusi, sekitar pukul tiga sore acara dibuka dengan mendengarkan sambutan oleh Ketua Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris, Perwakilan Ketua Jurusan Sastra Inggris, serta Wakil Dekan yang mewakili Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran yang sedang berhalangan hadir. Selanjutnya adalah  keynote speech dari Dr. Shrimati Das dan Bapak Dede Oetomo yang dimoderatori oleh salah satu dosen Sastra Inggris, Bapak Eko Koeshandoyo. Pada sesi keynote speech ini semua berjalan lancer kecuali sedikit gangguan yang kami alami dalam melakukan kontrol terhadap slideshow milik Dr. Das. Syukurlah panitia akhirnya menemukan cara untuk mengantisipasi masalah ini, sehingga untuk sesi selanjutnya tidak ada masalah dalam hal ini.

Hospitality Dinner

Malam hari setelah acara resmi ditutup, kami mengadakan hospitality dinner untuk para tamu undangan di tempat yang sama. Sayangnya, makan malam ini bisa dibilang sepi karena tiba-tiba banyak orang berhalangan hadir. Terlebih lagi, sebagian besar dosen Sastra Inggris tidak bisa hadir dikarenakan kepentingan akreditasi di kampus.

Hari kedua merupakan hari yang ditunggu-tunggu sekaligus yang paling melelahkan. Tanggal 25 April ini, empat ruangan parallel session dibuka di Gedung 4 sebelah Grha Sanusi. Masing-masing ruangan akan diisi oleh tiga orang pemakalah dan satu orang moderator. Setiap ruangan memiliki topik pembicara yang berbeda, sehingga para peserta dapat memilih ruangan seuai topik yang mereka minati. Dan yang paling menarik, selain presenter yang secara fisik hadir di ruangan diskusi, kami pun berhasil membawa presenter virtual ke ruangan diskusi. Hal ini terjadi karena dua orang presenter yang sudah diterima abstraknya yaitu Iskandar Zulkarnain dan Michael Walonen yang keduanya sedang berada di Amerika Serikat tidak bisa hadir ke Bandung sehingga mereka mempresentasikan makalah mereka melalui video call.

Parallel Session Parallel Session: Iskandar Zulkarnain

Sebagai salah seorang panitia dalam acara besar ini, dengan rendah hati saya mengakui bahwa banyak hal baru yang saya pelajari dari kepanitiaan. Dari hal kecil mengenai kesopansantunan membalas surat, membuat perjanjian kerjasama, hingga  membangun relasi dengan orang-orang besar seperti Dr. Bill Watson, Bapak Dede Oetomo, Ibu Julia Suryakusuma, Dr. Shrimati Das, Mr. Lacuesta, dan orang-orang dari kedutaan. Semua panitia mungkin sangat sepakat bahwa memulai sesuatu yang baru dan besar tidaklah mudah, apalagi jika melibatkan banyak pihak dari luar. Mau tidak mau, kami membawa nama banyak orang. Untungnya, banyak pihak yang membantu kami untuk membuat acara ini besar.

Pada awalnya, saya pribadi hanya membayangkan sebuah seminar sederhana dimana puluhan orang berkumpul untuk saling bertukar pendapat. Things happened, beberapa orang lintas pulau dan negara mengrimkan abstrak untuk konferensi dan kami mendapatkan kabar gembira bahwa Mr. Angelo Lacuesta bersedia datang dari Filipina. Lalu kami mendapat tawaran untuk menerbitkan jurnal dari Cambridge Scholar Publishing di Inggris. Peserta kompetisi pun semakin bertambah hingga kami terpaksa harus menutup pendaftaran karena keterbatasan kuota. Para alumni pun bersedia untuk membagi pengetahuan mereka dalam workshop tentang karir untuk mahasiswa Sastra Inggris.

This slideshow requires JavaScript.

Semua kerja keras rasanya terbayar ketika ketua Jurusan Sastra Inggris, Ibu Erlina, menutup acara Crossing secara resmi tanggal 26 April pukul 5 sore di Grha Sanusi, Kampus Iwa Koesoemasoemantri. Saya yakin, bukan hanya saya seorang yang banyak belajar dari kepanitiaan ini. Tentunya kita semua berharap tahun depan, dengan waktu yang lenggang dan persiapan yang lebih matang, annual event ini akan menjadi lebih sukses daripada tahun sekarang. Umumnya memang, persiapan acara seperti ini berlangsung selama satu tahun. Namun jika kurang dari dua bulan kami sudah bisa mencapai Tokyo, masa satu tahun tidak cukup untuk menembus Eropa? :p

Kembali teringat perkataan seorang kawan, “if you see the responsibility as a burden, you will never get the advantages. Do see the responsibility as an opportunity.”

Semoga berhasil!

Ditulis oleh: Iffah Adilah (@iffahadilah), Sastra Inggris 2009, Panitia Crossing 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 24, 2012 by in Uncategorized.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Tentang Gemasi

Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris (Gemasi) berdiri pada tanggal 1 November 1969 oleh Bpk. H. Abdullah Priyo Utomo. Pada awalnya Gemasi merupakan sekumpulan mahasiswa/i yang belum mempunyai struktur organisasi yang jelas. Hanya sekedar “nongkrong bareng”. Sehingga timbulah suatu keinginan untuk mempunyai suatu wadah untuk berkumpul dengan struktur yang terorganisir dan mempunyai lembaga yang jelas, seperti sekarang ini. Klik tautan ini untuk mengetahui lebih lanjut.

Archives

@gemasiunpad

%d bloggers like this: