Gemasi Unpad

Kami sudah pindah. Silahkan kunjungi gemasi.fib.unpad.ac.id

Kebebasan Anak

Suasana begitu rindang ketika kita mulai menjejakkan kaki di Gedung C Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Tak heran, banyak pepohonan tumbuh di sekitarnya. Pada jam tertentu, banyak mahasiswa  beraktivitas di depan gedung tersebut. Dan disaat itu pula, terlihat banyak sosok anak kecil membawa keranjang kotak putih berisi makanan ringan. Ya, mereka sedang berjualan. Menjajakan dagangannya ke setiap mahasiswa yang mereka lihat di sana. Bukankah seharusnya mereka bersekolah?

Sumber gambar: Google Images

Salah seorang teman saya bertanya kepada salah satu anak kecil itu, “Dik, kamu ngga sekolah?”. Anak itu menjawab sambil malu-malu, “Sudah pulang, Kak.”.  Syukurlah, saya lega mendengar pernyataan anak itu. Setidaknya mereka masih mendapatkan hak mereka untuk mendapat pengajaran; mendapatkan ilmu, walau saya tidak yakin apakah semua anak yang berjualan di sana memang bersekolah. Tetapi bagaimana dengan kebebasan mereka? Bukankah seharusnya mereka bisa menikmati masa kecil mereka? Bermain bersama teman-temannya tanpa harus ikut memikul beban orang tuanya? Tapi saya salut, mereka yang masih kecil sudah mau membantu orang tuanya, terlepas dari adanya pemaksaan atau tidak.

Saya jadi teringat anak kecil yang banyak terlihat di seputaran Jalan Riau, Bandung. Mereka berjualan Cobek (orang Sunda menyebutnya Mutu dan Coét) , memikulnya di bahu mereka, menjajakannya dari mobil ke mobil. Tak jarang, raut wajah mereka seperti meminta belas kasihan.

Lalu ada juga anak yang disuruh mengemis, tetapi orang tua mereka hanya mengamati di bawah pohon, duduk bersantai. Miris, mereka yang menjadi masa depan bangsa dan aset kemajuan negara, masih belum mendapat perawatan dan perlindungan yang baik dari orang tuanya . Mungkin inilah salah satu potret dampak kemiskinan yang masih melanda Indonesia. Lalu, kapan anak-anak itu mendapat hak kebebasan dan perlindungan mereka sepenuhnya? Entah siapa yang akan menjawabnya.

Ditulis oleh: Alin Marlina | @alinlinlon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 4, 2011 by in Ekspresi and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Tentang Gemasi

Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris (Gemasi) berdiri pada tanggal 1 November 1969 oleh Bpk. H. Abdullah Priyo Utomo. Pada awalnya Gemasi merupakan sekumpulan mahasiswa/i yang belum mempunyai struktur organisasi yang jelas. Hanya sekedar “nongkrong bareng”. Sehingga timbulah suatu keinginan untuk mempunyai suatu wadah untuk berkumpul dengan struktur yang terorganisir dan mempunyai lembaga yang jelas, seperti sekarang ini. Klik tautan ini untuk mengetahui lebih lanjut.

Archives

@gemasiunpad

%d bloggers like this: